Dengan menggunakan hidroponik, para petani akan dapat meningkatkan kualitas dan hasil produksi tanaman yang dapat di lakukan dengan menggunakan lahan sempit di perkotaan dengan media rumah kaca. Untuk menghasilkan produksi tanaman yang baik dan juga melimpah, para petani harus memperhatikan faktor yang mempengaruhi kualitas dari tanaman yang salah satunya adalah tingkat kelembapan pada rumah kaca atau lainnya.

Agrotani.com  – Pengertian hidroponik sebenarnya istilah ini berasal dari daerah yunani “hydro” = Air dan “ponos” = kerja. Jadi pergabungan kata tersebut adalah “cara kerja air”. Arti dari bercocok tanam hidroponik adalah media tanam yang berbeda dengan yang lain, umumnya menanam tanaman menggunakan tanah jika hidroponik tidak menggunakan tanah melainkan dengan media lain. Biasanya media ini memiliki prinsip yang sama yaitu menompang batang tanaman agar tanaman bisa berdiri tegak. Media hidroponik bisa menggunakan pasir, kerikil, zat silikat, batu karang, potongan kayu – kayuan dan masih banyak lagi media yang bisa anda temukan sebagai media tanam.

Pengertian Tanaman Hidroponik dan Contohnya – Perkembangan teknologi yang semakin pesat saat ini tidak hanya mempengaruhi bidang sosial budaya, pendidikan, informasi dan sebagainya, tetapi juga sudah menyentuh bidang pertanian. Tak heran, saat ini terdapat berbagai teknik pertanian yang baru dan salah satunya adalah hidroponik. Mungkin, Anda pernah mendengar istilah hidroponik serta tanaman hidroponik di berbagai media seperti majalah, TV, internet dan sebagainya.

(Pengertian dan Penjelasan Tanaman Hidroponik) – Hidroponik (latin; hydro = air; ponos= kerja) adalah suatu metode bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah, melainkandengan menggunakan larutan mineral bernutrisi atau bahan lainnya yangmengandung unsur hara seperti sabut kelapa, serat mineral, pasir, pecahan batubata, serbuk kayu, dan lain-lain sebagai pengganti media tanah.

Istilah hidroponik (hydroponics) digunakan untuk menjelaskan tentang cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya. Di kalangan umum, istilah ini dikenal sebagai “bercocok tanam tanpa tanah”. Di sini termasuk juga bercocok tanam di dalam pot atau wadah lainnya yang menggunakan air atau bahan porous lainnya, seperti pecahan genting, pasir kali, kerikil, maupun gabus putih.

Dahulu, peneliti yang bekerja di laboratorium fisiologi tumbuhan sering bermain-main dengan air sebagai media tanam dengan tujuan uji coba bercocok tanam tanpa tanah. Sebagian orang menganggap metode itu sebagai aquakultur (bercocok tanam di dalam air). Uji coba tersebut ternyata berhasil dan patut diberi acungan jempol sehingga banyak ahli agronomi yang terus mengembangkan cara tersebut.

Pada perkembangan selanjutnya, media air diganti dengan media yang lebih praktis, efisien dan lebih produktif. Cara kedua ini lebih mendapat sambutan dibandingkan cara yang hanya menggunakan media air. Oleh karenanya, pada perkembangan selanjutnya, teknik itu disebut hidroponik. Hidroponik ini kemudian dikembangkan secara komersial.

Advertisements